Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Oase DANAUDUTA

Home
Selamat Datang di Dunia Yang Sudah Berbicara...
Feb 15, 2008
Assalamu’alaikum WR. WB. Terimakasih anda telah meluangkan waktu bersilaturrakhim mengunjungi blog ini. Inilah bagian dari beranda kami. Semoga ada tautan manfaat dari kunjungan lewat dunia yang memang maya ini.

Tak lupa sedikit data kami kenalkan untuk anda bahwa melalui blog ini kami ingin berperan serta membina pergaualan dan persaudaraan sesame anak manusia yang diberi kesempatan hidup di dunia. Dan saya lahir, hadlir di dalam dunia yang sudah-sedang-akan berbicara.

Dan hari ini, di dunia yang memang maya ini, sudah seharusnya kami sampaikan sholawat salam kepada para Nabi dan Rosul, manusia pilihan Alloh SWT, yang atas jasa-jasa dan perjuangannya telah lebih dulu menata, menegakkan dan melaksanakan perintah dan petunjuk Alloh Aja wa Jalla maka hari ini saya bisa belajar membaca, memaknai, memahami, menghayati dan sebisa-bisa melaksanakan serta meneggakkan perintah dan petunjukNYA.

Terima kasih disampaikan juga atas jasa-jasa yang begitu besar dari kedua orang tua saya, ayah-bunda saya, saudara-saudara, kerabat, kakek-nenek dan para leluhur saya, guru-guru saya, semua telah berjasa mempetemukan kita lewat dunia maya ini. Demikian perkenalam saya semoga Aloh SWT senantiasa menaungi kita semua disetiap aktifitas dengan rahmat dan kasih sayangNYA. Amien.. Wassalamu’alaikum WR. WB.

Posted by WaliDUTA on Apr 11, '08 9:51 PM for everyone
Sebuah Tragedi Budaya.
Selalu berubah adalah sifat alam yang telah kita maklumi bersama. Tetapi berubah menjadi lebih buruk kualitasnya, masih ditambah dengan gelap dan tidak tahu bagaimana caranya keluar dari situasi tersebut adalah sebuah tragedi kehidupan. Mirip dengan situasi Nabi Yunus A.S. yang tersesat ke dalam perut ikan.

Bila situasi seperti itu melibat diri seseorang yang lemah mental, ia akan mudah putus asa dan berusaha menghindari masalahnya dengan berbagai cara negatif. Misalnya bermabuk-mabukan dengan minuman keras atau obat-obatan, bermain perempuan dan bahkan bisa nekat melakukan bunuh diri.

Lain halnya bila situasi tersebut melanda diri seorang yang enerjik. la segera bereaksi dengan memaki-maki keadaan, mengutuk setiap orang atau bahkan menodongnya. la lemparkan semua pengetahuannya tentang nilai ke tong sampah. Seolah dirinya tak punya andil dalam menciptakan keadaan. Situasi kehidupan pun semakin bertambah gelap, semrawut tak terkendali.

Nabi Yunus A.S. mengatasi masalahnya dengan bertasbih dan mengakui kezaliman diri. Karena subyeknya perorangan. Bila hal tersebut terjadi pada suatu bangsa besar yang heterogen kepercayan dan tradisinya, serta beragam wawasannya tentang kenyataan, solusinya tidak semudah melakukan tasbih akbar, istighosah kubro atau sejenisnya. Karena permasalahannya sudah bukan soal teknis lagi, melainkan lebih esensial dari itu.

Sebuah tragedi kehidupan praktis akan diikuti oleh tragedi budaya. Sedang kebudayaan merupakan sebuah perspektif nilai berdasarkan nilai yang dianggap prima. Bila nilai yang dianggap prima telah menjadi kabur, lenyap dari kesadaran ummat yang sedang mengalami chaos, budayanya pun akan kehilangan perspektif yang menawarkan  kemungkinan. Dengan kata lain bila ummat telah kehilangan kiblatnya yang nyata, hasil budayanya akan menjadi sekedar asal jadi saja.

Bagi golongan kuat yang kehilangan indra kemanusiaannya akan mendapat peluang untuk merealisasi egoismenya. Sedang golongan lemah akan terpuruk kedalam keputus-asaan, ilusi dan khayalan.

Refleksi budayanya dalam bentuk kesenian akan berwujud film-film tentang hantu, tuyul, vampir, dlsb. Selebihnya berupa atraksi dagelan untuk melupakan setumpuk masalah yang tak terjawab.  Sekaligus sebagai pelarian dari kemandulan dirinya dalam berbudaya. Masih ditambah dengan sajian potret-potret tentang kegagalan berbudaya, rekaman tentang penangkapan penyelundup, koruptor, penodongan, pemerkosaan dan pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah menu harian setiap keluarga yang menggantikan kesibukan rutin berumah tangga seperti menggarap pe-er bagi para siswa, baca buku untuk menambah wawasan, dan melakukan ibadah sunnah atau zikir untuk memotivasi diri dalam menghadapi hari esok yang penuh tantangan. Hal-hal yang semestinya hanya penting buat kalangan tertentu dijajakan secara terbuka di depan para remaja yang belum berbentuk dan belum memiliki filter yang memadai.

Penampilan visual tentang sisi gelap kehidupan yang penuh dengan penyimpangan, pembunuhan sadis dan berbagai macam imajinasi tentang hantu secara terus-menerus di depan generasi muda yang kita harapkan bisa menjadi pelaku budaya yang baik, akan berdampak menyesatkan proses identifikasi diri mereka. Karena masukan melewati mata (pengetahuan visual) pada jiwa seseorang jauh lebih kuat  pengaruhnya dibanding dengan masukan lewat telinga (pengetahuan verbal).

Maka tidak mengherankan jika suapan-suapan nilai dari kitab-kitab suci, nasehat orang-tua, guru ngaji dan dosen-dosen plus bibliotika sekolahnya, tidak mendapatkan respon yang positif dari kebanyakan generasi muda, karena di-counter oleh pengetahuan  visual yang mereka saksikan sendiri di dalam perjalanan. Praktis mereka akan menjadi makhluk baru yang aneh, di luar dugaan, dan tanpa kemungkinan yang bisa diharapkan.

Karena semakin langkanya  keteladanan yang bisa merangsang mereka untuk berkembang. Dan praktis pula akan gulung tikarnya agama-agama dan ajaran moral dari muka bumi pada suatu saat. Padahal, bukankah semua agama hanya menawarkan kemungkinan hidup yang lebih baik, lewat tradisi (sunnah) kepada pemeluknya? Apakah dengan demikian kita bisa menjadi yakin akan keberhasilan Panca Sila sebagai dasar dan falsafah negara?

Tragedi Kesadaran Diri

Tragedi kehidupan tidak mungkin terjadi sebelum masyarakatnya mengalami 'tragedi kesadaran diri' terlebih dahulu. Tragedi kesadaran diri merupakan momen lahirnya Iblis dan Setan di dalam diri seseorang. –(Maaf, jika saya terpaksa menggunakan simbol-simbol lama untuk menjelaskan hal ini, karena belum didapatkan simbol baru yang memadai dan dipahami semua orang, pop atau populer)-.

Bila kesadaran diri seseorang mengalami tragedi, maka semua ungkapan dirinya akan merosot akurasi dan efektifitasnya. Akibatnya ia akan kehilangan kesempatan untuk melahirkan nilai-nilai yang diharapkan (a-budaya).

Momen Lahirnya Iblis
Kesadaran adalah sebuah nyala terang di dalam batin manusia. la mengalami proses tumbuh seiring dengan berkembangnya kehidupan. Ketika 'terang' mencapai puncaknya, individu yang bersangkutan  merasa lebih unggul dari yang lain. Saat itulah lahirnya 'rasa super" (Iblis) dalam dirinya. Segala yang datang darinya dianggap lebih akurat dan layak diterima oleh semua pihak, tanpa harus diuji nilainya bagi kehidupan.

Proses ekspansi pun dimulai dengan memaksakan pendapat (manipulasi informasi) dan selanjutnya  mendesakkan hajad (menawarkan program) kepada sasarannya. Tawarannya serta-merta akan mendapatkan respon dari pihak yang tensi keterdesakannya lumayan tinggi. Apa lagi bila dukungan dananya tersedia.

Secara otomatis refleksi budaya mereka dalam bentuk kesenian akan mendukung melicinkan proses ekspansinya di wilayah global. Film-film yang bersifat show of force, eksplorasi fiktif dan perang-perangan segera meluncur ke segenap pelosok bumi.  Kekaguman penonton akan superioritas mereka di bidang teknologi dan senjata pemusnah akan mengaburkan image mereka tentang kebutuhan hidup dan pengembangannya.

Momen Lahirnya Setan

Selain itu masih terdapat tragedi lain yang lebih bersifat eksistensial. Yaitu tragedi kebersamaan hidup dan kelangkaan sumberdaya alam. Hidup bersama orang lain memang asyik, karena dapat bergotong-royong dan berbagi-rasa dalam suka dan duka. Tetapi, setelah menyadari perkembangan jumlah manusia semakin membludak dan tidak terkejar oleh produksi sarana kehidupan, timbullah kecemasan manusia akan ditinggalkan kesejahteraan. Saat itulah lahirnya 'nafsu keserakahan' (syetan) di dalam dirinya untuk menawarkan solusi. Setiap individu mulai dipacu untuk  segera berangkat memperebutkan sumber daya alam. Dan kehidupan menjadi bagi yang terkuat.

Refleksi budaya mereka dalam bentuk kesenian akan merangsang selera penonton untuk hidup berfoya-foya, menghamburkan waktu, sarana dan energi untuk mengungkapkan segala yang kurang bernilai. Kontes 'seribu-ratu' dalam segenap ekspresi estetikanya bermunculan di panggung-panggung terbuka. Para pesertanya dipersiapkan dengan sarana dan prasarana yang mahal dari semua lingkung ummat, tak  terkecuali dari lingkungan beragama (non ormas). Demi 'dunia milik' dilecehkannya 'dunia diri'.

Terjadinya kedua tragedi yang melatarbelakangi chaos-nya kehidupan ummat manusia menandakan bahwa ummat manusia telah mulai tergelitik lagi untuk menundukkan ruang (kerajaan yang tak rusak) dan waktu (pohon khuldi) yang ditawarkan Iblis kepada Adam, dengan cara yang  memungkinkan dalam zamannya.

Paradigma Proses Kreatif

Meskipun berulang kali mengalami kegagalan di dalam memerankan diri,  kita mesti tetap berusaha dan terus berusaha sampai menemukan sebuah  paradigma proses kreatif yang masuk akal dan bebas dari kepentingan sepihak, supaya apat diterima oleh semua golongan. Dengan demikian dapat memancangkan harapan dalam mencari kemungkinan yang lebih  baik, yaitu situasi global yang dijaga bersama dan untuk kepentingan  bersama.

Telah kita maklumi bersama bahwa setiap individu manusia adalah sebuah otoritas (kekuasaan) yang memiliki daya mampu (potensi;qadar) yang terbatas. la dilepas dari sangkarnya (asal) untuk memerankan managerial-Nya di muka bumi. Tentu saja sebatas kemampuannya masing-masing. Oleh karena itu kedudukan manusia di tengah-tengah kehidupan ini adalah sebagai 'sebab'. Maka ia yang mesti memikul tanggung jawab terhadap baik-buruknya kehidupan dan  sejahtera tidaknya masyarakat.

Di dalam mengungkapkan potensinya untuk mencapai 'Tujuan', ia dihadapkan pada banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Ia butuh memiliki sarana (fasilitas alam atau teknologi) yg memadai sebagai 'alat' untuk mewujudkan yang dikehendaki. Yaitu sesuatu yang dengannya memungkinkan tercapainya tujuan.

Ia dituntut untuk memiliki pengetahuan situasi, bermoral dan akomodatif, supaya hasil karyanya direspon oleh masyarakat (syarat). Yaitu sesuatu yang dengannya membolehkan sampainya tujuan. Ia harus mampu menahan diri dan memiliki pertimbangan yang akurat, hingga tahu persis dalam batas mana potensinya relevan diungkapkan (melek hukum: batas). Sesuatu yang dengannya menjamin tercapainya yang dituju.

Pengetahuan tentang dimensi esensial dari wujud kehidupan (Asal, Batas dan Tujuan) beserta dimensi eksistensialnya (Sebab, Alat, dan Syarat) dapat kita tegakkan untuk membangun sebuah paradigma proses kreatif yang akan menawarkan jalan keluar dari situasi chaos yang berlarut-larut demi menggapai terang yang kita harapkan bersama.

Membangun Budaya Baru

Dengan Paradigma Proses Kreatif yang sederhana, mudah dipahami, dan bisa dilaksanakan oleh semua (universal), setiap kelompok ummat akan dapat melahirkan budayanya sesuai dengan cita-rasa, potensi dan kebutuhan masing-masing tanpa mencederai pihak lain. Hingga mereka menemukan identitas budayanya yang mampu menopang wujud kehidupan global yang fair. Bukankah makna berbudaya adalah  memberi kepada pihak lain? Tetapi, tanpa menemukan identitas diri, tak ada sesuatu pun yang bisa diberikan. Betapa besar peran 'penguasaan diri' di dalam proses berbudaya dapat kita maklumi,  karena jangkauannya adalah nasib orang banyak (masyarakat). Sedang asetnya adalah menggarap diri seumur-umur.

Setelah identitas budayanya ditemukan, barulah mereka menjadi relevan untuk memasuki dimensi proses yang lebih tinggi, yaitu: berorientasi kebenaran. Setelah itu tak ada lagi orientasi identitas yang memporak-perandakan keutuhan ummat, karena  identitas eksistensialnya telah ditemukan. Nilai pribadi dan nilai komunitas akan ditentukan oleh output-nya kepada kehidupan yang lebih luas.

Dengan demikian globalisasi menjadi mungkin, tanpa harus memojokkan budaya apa pun di dunia ini. Dan insya  Allah akan diterima oleh bangsa-bangsa lemah, karena mereka  tidak lagi menjadi sasaran ekspansi kebutuhan bangsa-bangsa maju,  melainkan sebaliknya akan menjadi sasaran pemikiran dan  kepedulian dari mana dan siapapun yang telah berorientasi  kebenaran.

Muhammad Zuhri. Sekarjalak, 16-4-’05 Seminar Budaya, Surabaya: Jangan Menangis Indonesia, Festival Seni di Kompleks Balai Pemuda Surabaya.


Posted by WaliDUTA on Apr 4, '08 5:02 AM for everyone
Berjuta warna pelangi di dalam dada… cuplikan sebaris bait lyric lagu Agnes Monica terdengar dari  Nsp nada dering handphone kawan di seberang sana yang berujung menanyakan tentang  conten sebuah buku  ESQ-Executive Training karangan Ary Gynanjar yang cukup  fenomenal itu. Fenomenal karena berhasil mengisi khasanah langkah setiap pebisnis atau lebih tepatnya para eksekutif muda dalam membangun jaringan dan mengembangkan bisnisnya dengan etika dan bahkan bukunyapun  best-seller mengisi rak-rak meja kantoran bagai panduan "Kitab Suci" para eksekutif muda di kantor-kantor. Yang agak aneh dari pertanyaan selanjutnya dari kawan saya itu adalah ketika dia bertanya; “ Mas, buku itu mengandung Islam Liberal apa tidak ya…?” Apa..? Saya balik bertanya;..maksudmu JIL ?  Hhe ech.. Ooalaah…ini rupanya yang sesungguhnya fenomenal itu, demikian batin gumam saya. 

Dialog itu kami akhiri ditulisan ini supaya sekedar menjadi catatan diri bahwa; betapa sesungguhnya sudah lama aku tidak pernah lagi melihat indahnya pelangi, bahwa sejak kecil kami sudah kenal bendera sang Saka Merah Putih yang dikibarkan di halaman sekolah, kantor-kantor juga halaman rumah setiap Agustusan dan bendera itu berwarna Merah dan berwarna Putih. Hanya Merah dan Putih. 

Kini, di hari ini, aku melihat warna bendera-bendera itu berkibar ramai berwarna warni bagaikan warna pelangi saling bertautan menyatu warnanya bila disapu angin. Sungguh indah, ada yang berukuran raksasa, ada yang menjulang memanjang vertical bahkan kadang panjang membentang diatas jalan disertai kalimat slogan. Sungguh, aduhaiii eloknya.

Sepanjang mata memandang, sepanjang sejarah menyulam, warna warni itu tidak seindah warna aslinya. Tentu tidak termasuk warna pelangi ciptaan Tuhan. Karena bila kembali ke pertanyaan kawan saya diatas, cukup bisa ditangkap subtansinya bukan? Kawan saya itu tentu sekedar bermaksud hati-hati dalam memilih atau membeli buku bermutu. Tapi muatan "penilaian" atas  liberal-kah atau tidak-kah isi buku itu, menjadikan sebuah pertanyaan yang sesungguhnya  sangat  fenomenal.  Setidaknya dalam menyikapi segala hal agar senantiasa hati-hati adalah bagus. Tapi memilih sesuatu dengan "rujukan hati" itu lebih penting dan harus ! Sebab rasionalitas semu kadang gemar menjebak. 

Dijaman rasionalitas menjadi ujung tombak "kepemimpinan hidup" semua manusia, peranan akal sering dibenturkan dengan hati sehingga tanpa sadar sering kita kehilangan moment bebas, kebebasan, bebas yang membebaskan, moment selamat menyelamatkan, sebagaimana muatan do'a pada  Assalamu'alaikum kita, sehingga banyak hal mengkendala atas kemajuan yang mestinya sudah bisa dicapai. 

Itulah gambaran trust masyarakat kita akhir-akhir ini. Betapa sekedar memandang warna bendera orang lain saja bisa ber-adu jotos bahkan sering bisa menimbulkan simbah darah  -(simbah darah simbah buyut ..?)-.

Islam liberal sesungguhnya wacana lama, wacana klasik.  Embrio-nya sudah ada sejak manusia sadar mencari Tuhan, dan wacana itu melahirkan ilmu kalam serta berkembang membuahkan ilmu ushuluddin. Rosululloh sendiri senang dengan warna merah melambangkan pribadi pemberani, sedang bangsa Arab menyukai warna hijau karena mengidamkan kesejukan ditengah garang dan gersangnya padang pasir. Tapi bukan berarti beliau membenci apalagi menghilangkan warna lain yang tidak disenanginya. Itu hanya masalah fitroh manusia. Dan tentang perbedaan ”pilihan” itu, Rosululloh Mukhammad Bin Abdullah sudah memprediksi berkat petunjuk Alloh SWT tentang akan datangnya aliran-aliran dan golongan-golongan yang hanya satu bakalan diridloi Alloh SWT, ialah golongan  Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan setiap kita tentu sudah dengan percaya diri mengaku dirinya sebagai penegak golongan tersebut. Wallohu’alam. 

Mempertanyakan banyak hal dalam menggali ilmu kehidupan adalah bagian pembelajaran untuk mengenal Tuhan. Bahkan Tuhan senantiasa mengajak umatnya untuk selalu menggunakan akal fikiranya.  Almarkhum Akhmad Wahib, seorang aktifis Islam muda sudah lama mengusung wacana pemikiran ke-Islaman sejak 70-an akhir. Persis seperti metoda pemikiran JIL, hanya saja "kenakalan berfikir" dengan gaya kritis demikian memang mengundang perbedaan yang berisiko. Apalagi bila sudah dibarengi dengan mengibarkan "bendera" dan melembagakanya. Seolah bendera orang lain jelek dan jauh lebih buruk ketimbang benderanya sendiri. Akhirnya benturan terjadi tidak saja pada level pemahaman, pemikiran tapi bisa jadi meningkat ke level perpecahan dan peperangan fisik.

Seperti yang dikhawatirkan kawan saya tadi…” aku sesungguhnya takut baca buku bila kelak dituduh orang lain ber-aliran ini atau aliran itu…”. Kekhawatiran begitu masih mending kawan, saya punya pengalaman lain lagi. Sekedar membawa teman mampir dan ngobrol bareng dihadiri beberapa orang di rumah, esok paginya saya di interogasi salah seorang jama'ah masjid; "Pak.., Ustadz yang kemarin itu aliranya apa sich...?" 

Astaghfirulloh..., kadang kita ini kok keterlaluan banget ya, sangat berani mengambil alih kewenangan peran Tuhan..? Gampang menilai, menghakimi. Tapi memang ya lucu dengan istilah Islam Liberal, kedengaran ditelinga gagah, modern, avant garde, tapi out-put nya bikin beberapa kalangan merah telinga. Islam Kok Liberal, Islam itu ya Kaaffah. Gitu lho..dik !


Posted by WaliDUTA on Mar 13, '08 9:26 AM for everyone
Setiap kita selalu berupaya agar bisa terhindar dari duka derita. Padahal duka derita adalah strategi Tuhan untuk mendewasakan manusia, mendewasakan diri. Tidak perlu takut dengan duka derita. Duka derita adalah anugerah pemberian Allah, sebagai peringatan untuk mengubah diri agar lebih baik. Sepanjang sejarah umat manusia tidak pernah ada yang bebas dari duka derita. Sering kali duka derita kita sikapi sebagai cobaan, ujian. Lebih dalam sesungguhnya ia adalah anugerah, rizki, ilmu, rahmat sebagai hikmah, sebagai petunjuk untuk menemukan diri agar lebih baik. Lebih positif.

Suka duka dan bahagia tidak bisa diharapkan datang dari orang lain. Jangan berharap suka, bahagia, merdeka, dan bebas, diselenggarakan oleh pihak lain. Karena orang lain juga sibuk mencari kebahagiaannya sendiri-sendiri. Selesaiakan sendiri masalah hidup dengan berhubungan lebih baik dengan orang lain.

Ada seorang sufi yang jika sakit dia tidak mencari dokter, toko obat atau juru alternatit penyembuh. Begitu ia merasa sakit, cepat-cepat dia keluar rumah mencari fakir miskin atau anak yatim untuk menolong atau membantu mereka dengan meberikan uang, pakaian atau barang berharga simpananya, maka sembuhlah ia dari sakitnya.

Betapa hebat dan dahsyatnya energi niat, gerak motivasi dalam merubah keadaan, merubah diri utamanya ketika mengalami kesusahan dengan cara tidak menyalahkan pihak lain, sehingga akan memancing aura alam dan mengundang datangnya campur tangan Allah. Tentu ketika didasari pengakuan tulus dan pasrah dihadapan Alloh, meskipun melalui pihak lain datangnya masalah tersebut. Sesungguhnya ketika orang lain membalas perilaku buruk kita, atau berbuat sesuatu yang negatif pada kita, sehingga mengkendala bagi perkembangan diri kita, semua itu bukan atas kemauannya sendiri. Namun ada peran serta Allah supaya kita atau ’si pihak yang bersalah’ sama-sama berubah.

Kesuksesan, kebahagiaan, kesenangan, kemerdekaan, dan kebebasan harus diselenggarakan oleh setiap personal untuk dirinya. Setiap sesuatu yang mengkendala datangnya kesenangan atau kebahagiaan, janganlah coba-coba mengkambing hitamkan orang lain, karena Allah bias murka, serahkanlah kembali kepada Alloh, Alloh Maha Adil. Jangan sekali-kali berkata, ”Gara-gara Si itu saya jadi tidak beruntung, gara-gara Si ini saya jadi begini...dsbdst,” semua itu tidak benar, ini emosi, itu nafsu luwammah. Allah senantiasa memberikan fasiltas dan jaminan bagi orang yang selalu ketika menghadapi kendala, dia tidak menyalahkan orang lain, tapi ia berbenah diri. Carilah rumus dan raihlah jaminan itu. Bila engkau temukan, maka setiap duka derita dan masalah itu jadi anugerah. Dan berbenah diri tidak cukup dengan mengucapkan Astaghfirulah, karena Istigfar itu ikrar. Ikrar atas penyaksian dihadapan Alloh atas keterbatasan diri sehingga memerlukan pihak lain, ikrar atas kekhilafan diri sehingga memerlukan media lain sebgai penetralisir, ikrar mengakui dengan berani kesalahan diri dan siap memaafkan pihak lain. Inilah muatan makna ayat ”Innallaha la yughoiru ma bikoumin... ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah situasi suatu kaum sebelum mereka itu mengubah sikap hidupnya sendiri, apa yang ada di dalam hatinya." Dengan begitu semua kendala diri bisa lepas untuk memulai lagi dari titik netral melangkah maju kea rah lebih baik.

Kesimpulanya adalah, datangnya kesuksesan, kesenangan, kegembiraan, kebahagiaan harus melewati proses perjuangan dan diri kita sendirilah yang menyelenggarakanya. Karena situasi tidak enak, menderita, terganggu orang lain, tidak akan diubah Allah sebelum kita sendiri yang mengubahnya. Betapa Al~Qu’ran mendidik setiap individu untuk senantiasa mandiri. Tanpa kemandirian seseorang tak akan sanggup menolong orang lain, setelah ia mandiri baru bias memudahkan hidup orang lain.

Sampai-sampai cara bodoh ditempuh para sufi terdahulu, jika sakit tidak mau berobat. Dengan hanya membawa uang, atau makanan kemudian ia berikan pada fakir miskin, maka ia sembuh. Ia sembuh bukan dengan obat tapi dengan amal sholeh. Karena ia telah mengubah sikapnya dari tertutup menjadi terbuka, yakni menjadi berguna bagi orang lain. Dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang berguna bagi orang lain. Rupanya modal keimanan akan sunnah Rosull bahwa; “Bentengi hartamu dengan zakat dan sembuhkan sakitmu dengan sodaqoh” telah cukup mengubah keadaan.

Agama memerintahkan kita agar menolong orang lain, dengan menolong maka keberadaan kita menjadi bermakna. Itulah hakikat agama. Jika ingin mencapai surga hanya buat diri sendiri, tapi membiarkan orang lain di neraka ragukanlah itu pasti bukan ajaran agama. Kita harus mencari syurga dengan bisa mensyurgakan orang lain. Kita mencari kesenangan dengan bisa manyenangkan orang lain. Itulah kepribadiaan yang diharapkan Allah dan Rasul, kepribadian untuk ditegakkan di kalangan orang beriman. Kepribadian Rosululloh Mukhammad bin Abdullah yang telah mengalami Isra’ dan Mikraj bukan untuk diri sendiri. Subkhanalloh.

Penyair Sufi yang Fisikawan dari Pakistan, Muhammad Iqbal mengatakan: Carilah nafkah dalam sirna, Carilah upah dalam mati.

Jadi, jangan ingin enak sekarang. Enak itu akan datang sendiri setelah kita bisa mengenakkan orang lain. Senang akan datang sendiri, kalau engkau bisa menyenangkan orang lain. Inilah keadilan Tuhan.

Tidak ada sesuatu yang hilang dalam diri kita, kebaikan dan keburukan sekalipun. Semua dicatat oleh sel-sel syaraf, benak manusia dan Malaikat. Allah tidak buta, ciptaannnya juga tidak buta, sel merekam suara dan perbuatan. Semua makhluk Tuhan termasuk komponen alam dalam keadaan jujur merekam perbuatannya.

Hati-hatilah berbuat, karena hidup cuma sekali, gagal di kehidupan ini, maka sudah tidak ada kemungkinan lain untuk bisa berbuat baik di alam lain. Pesan Islam terhadap pemeluknya adalah supaya engkau bertaqwa dengan menjadi khalifah di bumi dan semua dilaksanakan atas ridlo Alloh.

Penjaralah diri kita sendiri, demi kepentingan bersama. Karena kita ingin hidup, senang bersama orang lain. Itulah tanda persaudaraan, tanda mencintai orang lain, tanda di dalam diri kita ada iman. ”La yukmin wadukum...” Belum iman seseorang di atara kamu sebelum melayani dengan rasa cinta orang lain sebagaimana kamu melayani diri sendiri.

Di dalam diri ini ada hukum-hukum ketat yang kita pegang teguh demi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Kita tidak akan sengsara, tidak akan merasa sakit karena itulah sesungguhnya manifestasi cinta. Inilah wujud cinta pada sesama yang hidup. Inilah iman kita pada Allah.

Hukum itu adalah bagaiman kita sanggup mengubah diri supaya tidak stagnan, tidak mengundang predikat buruk orang lain. Kalau ada predikat buruk dari orang lain adalah karena salah diri kita. Dan tidak ada yang bisa merehabilitasi kecuali diri kita sendiri. Berubahlah kalau mau mengubah situasi hidup.

Pesan Al~ Qur’an di dalam beragama yang hakikatnya mengabdi pada Allah realitanya adalah mengabdi pada seluruh umat manusia. Siapkan diri kita untuk mengabdi pada seluruh manusia. Pasti bisa, kita bias mengabdi kepada yang di bawah kita di kantor-kantor, di instansi-instansi, di organisasi-organisasi. Dengan mengabdi kepada bawahan, maka kita akan menemukan makna keberadaan diri kita.

Maka tidak takut ketika ajal datang. Diri akan siap berkata; ”Aku telah melakukan apa yang aku bisa. Sekarang aku dipanggil, masalah penilaian terserah Tuhan. No problem. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk hamba-hambaNya.” Maka dia akan husnul khotimah yaitu sikap hidup yang terbaik. Ia tidak menyesal meninggalkan tamasya di kulit bumi ini. ”Semua kebaikan dan amal shaleh sudah kulakukan, penilaian bukan urusanku, kini kesempatanku sudah habis, silahkan ambilah Ya Rabby.. ” Selesai hidup. Dan surga pasti kuraih.

Bersyukurlah engkau bila masih punya kesempatan mencari ilmu, karena dengan ilmu supaya engakau bisa beramal lebih banyak. Dengan harta dan jabatan adalah untuk bisa melindungi dan melayani orang lain lebih banyak. Semua dalam rangka mengabdi pada orang lain, pada umat manusia.

Inilah yang dimaksud dengan ’Ismullahi Adzom’.
Nama Allah yang paling sempurna.
Nama Allah yang paling mulia.
Nama Allah yang ke 100.
Yaitu nama Allah yang bukan kata-kata, tapi perbuatan, kondisi diri kita yang terbaik.
Nama Allah yang agung, yang apabila Allah disebut dengan nama itu, apapun yang diminta akan dikabulkan.
Nama apakah itu?
Yaitu pengabdian manusia kepada semua yang ada, seumur hidup.
Dialah nama Allah yang paling mulia, yaitu mengabdi kepada seluruh umat manusia seumur hidup bahkan sampai sedetik sebelum mati.
Mengabdi pada sesama manusia, itulah nama Allah yang terbesar.
Karena nama hanya simbol, hanya kata-kata.
Kata-kata menjadi ada karena ada kenyataan.
Ada kenyataan yang diberi simbol dan nama.
Kenyataan itu adalah kenyataan diri kita.
Asma wujudnya adalah siap mengabdi pada umat manusia.
Siapapun bias menyandangnya.

Adalah sesuatu yang hebat ketika seseorang sanggup melakukan sesuatu hal yang menyebabkan dia harus menanggung resiko akibatnya. Itulah kejantanan manusia, yang diluar kemampuan insan biasa untuk menangagungnya. Hal itu tidak mungkin jika tidak dilatih. Tidak usah yang berat-berat dulu. Latihlah dengan kepedulian pada orang yatim, fakir-miskin. Orang cacat diciumi, dirangkul seperti anaknya sendiri, padahal ia bunting kaki, tangan, padahal ia buta. Kecintaan dan kepedulian yang tinggi pada yang membutuhkan.

Dengan demikian pengabdiann menjadi tidak sekadar kata-kata. Pengabdian dirasakan dan disaksikan oleh orang yang menerima pengabdian, yang menerima amal sholeh. Dia menjadi saksi. Pengabdian itu membutuhkan saksi, siapa yang ditolong. Dan akhirnya orang itu berkata, ”Dialah penolong saya!” Inilah bagian ilmu syahadah.

Adakah seseorang mengatakan diri kita penolong, tapi kita tidak pernah menolong? Tidak mungkin!. Orang lain yang memperkenalkan diri kita sebagai penolong, ”Engkau telah menolongku, dan benar aku merasakan dan menyaksikan pertolonganmu!” Orang lain itu sangat penting. Merekalah yang mengidentifikasi diri kita, yang memberi makna keberadaan kita. Orang lainlah yang menegarkan kita di depan Tuhan. Mereka menjadi saksi bahwa kita adalah penolong, merekalah saksi bahwa kita banyak amal sholehnya.

Orang seperti itu akan tegar. Kematian itu kecil dihadapannya. Yang mati adalah fisik, intelektual, moral, ilmu dan nilai, sedangkan ruh itu tetap hidup. Orang seperti itu adalah sosok yang mengambil alih manajerial Tuhan, pengurusan Tuhan. Ia sanggup menolong dan berkorban bagi orang lain yang menderita, baik yang ia kenal maupun tidak. Saat itu ada sesuatu yang bukan akal, bukan fisik, dan bukan hati nurani. Saat itu ada kehidupan, kehidupan spiritual, yaitu menanggung semesta menurut kemampuan yang ada. Yang bodoh adalah orang yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Orang hebat adalah yang menyamai nabi dalam bersikap hidup terhadap manusia, siap berkoban seumur hidup untuk semua manusia, yang sempat ditemuinya dalam proses hidupnya, meskipun bukan sebangsanya atau bukan saudaranya.

Allah tidak menyia-nyiakan apa yang kita perbuat untuk orang lain, baik maupun buruk. Kelak kita bertemu dengan Allah, mempertanggungjawabkan perbuatan diri, saksinya adalah diri sendiri. Mata, otak, sel, komponen alam menyaksikan, merekam perbuatan diri kita baik atau buruk. Sel-sel adalah materi yang merekam semua perbuatan, tidak saja pada diri kita, tapi juga pada orang yang kita tolong atau yang kita lukai. Semua ada rekamannya dan rekaman itu tidak akan hilang. Rekaman itu harus dipertanggung-jawabkan. Sebagaimana tulisan yang engkau baca di layar komputer ini adalah hasil recording dari tut-tut huruf yang ada di key-board dan disimpan dalam file juga sebagai wujud pertanggungjawaban dedikasi anugerah ilmu untuk kebaikan kita semua.

Karena itu ada ayat yang berbunyi, ”Bila manusia berbuat baik, ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, apabila ia berbuat buruk, sesungguhnya ia sedang berbuat buruk terhadap dirinya sendiri.” Konsistenlah menjadi Ismullahi Adzom, menjadi nama Allah yang ke seratus, pelaku manajerial Tuhan, menurut kemampuan dan asset yang ada kapan saja, di mana saja.*

Takdzim bakti kami kepada; Iden Lily Sumantri bin Syahidi, Garut-Bandung, ‘Abdul Azis bin Muzaini, Banten-Jakarta, KH. Mukhammad Zuhri bin Mukhammad, Kajen Pati, KH. Ali bin Maksum bin Akhmad, Lasem-Krapyak Yogyakarta. Mukhammad ‘Ainun Nadjib bin Mukhammad ‘Abdul Lathif, Menturo-Jombang, Aby Mukhammad bin Mukhammad Zamry, Bukit Tinggi, Padang-Aceh Darrussalam. KH. Khoirul Anam, Ceweng-Bojonegoro.





Posted by WaliDUTA on Feb 17, '08 11:43 AM for everyone
Suka dan duka, baik dan buruk, juga ‘komponen ber-pasangan’ lainnya, yakinlah itu Alloh Zat Illahi Rabbi penciptanya. Sebagaimana diciptakannya mahluk berjenis laki-laki dan perempuan, sekaligus dipasang-jodohkan keduanya, tak lain adalah untuk menggenapi kekurangan satu dari kelebihan lainnya. Al~Qur’an memberi ‘icon’ dengan istilah penyatuan (tawhid). Kalangan interpretant mashur meyakini atas dialektika ini adalah untuk saling mengenal satu sama lain. Mengenali siapa diri, aku, engkau, kita, dan dari mana hendak kemana kelak bermuara. Temukan jawabannya ditulisan ini.

Ketika Alloh SWT, meniupkan kepada manusia ‘ruh yang satu’tanpa mengurangi sedikitpun ke-Esa-anNYA–, maka sesungghnya saat itulah titik tolak bersumber dan bermuaranya diri telah Alloh hujamkan sebagai landasan ‘perjalanan’ yang diberi tugas hanya mengabdi pada Rabb-NYA (QS.51:56). Konsekwensi tidak patuh pada kehendak Tuan-nya akan berakibat buruk seperti digambar-kisahkan dari umat-umat terdahulu para Nabi dan Rasul dijamannya. Inilah awal sekaligus akhir risalah spektakuler Rosululloh Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia, ‘sekedar’ supaya tepat merespon tanda-tanda (ayat) kehendak yang Kuasa, Sang Khaliq, Alloh Rabbul’alamin. (Jawa: sangkan paraning dumadi).

Nampaknya pemahaman, penghayatan yang demikian ini gampang, namun yang terjadi sungguh absurd, seringkali bahkan menemukan keputus-asaan dan kebuntuan serta terjadi pasang-surut dalam praktek sehari-hari seiring dengan dahsyatnya gempuran ‘nilai peradaban otak manusia’ yang telah menjadi ukuran segala hal. Meskipun tatanan syari’at menuju intensitas perjalanan diri, pengembaraan diri, pencarian diri dan pembelajaran diri tersebut sudah disuri-tauladani para Nabi dan Rosul yang Seribu Empatratus Tahun lalu telah disempurnakan oleh Rosulluloh Muhammad SAW yang Alloh tetapkan.

Sadar bahwa, dalam melakukan amal perbuatan keseharian; pemahaman menangkap ‘satu tanda’ (ayat) sekaligus cara menyikapi tanda pasti berbeda output-nya satu sama lain. Bukti bahwa ke-berbeda-an itu nyata adanya. Karena itu maka berbeda pula dalam memahami dan menyikapi keberadaan diri, keberadaan anak, keberadaan istri, keberadaan suami, keberadaan rumah, mobil, dan keberadaan ‘asset pinjaman’ kepemilikan melimpah lainya. Namun cara pandang penyikapan atas kenyataan apapun, bila mau sedikit saja berani membenturkan dengan cara pendekatan diatas, barangkali akan sedikit terang dan gamblang dalam mengidentifikasi persoalan dan menemukan penyelesaianya secara cepat dan siap dalam mempertanggungjawabkannya.

Beranjak dari keyakinan sederhana ini, tak heran jika do’a rutin kita setiap saat adalah semoga senantiasa diberi kemudahan, kemudahan, kemudahan dan kemudahan dalam menyikapi setiap keadaan, sebagaimana harapan dimudahkannya memahami deretan huruf yang anda baca sekarang ini. Sangat terukur, mudah diketahui maksud penulisnya, apa tujuannya, yang selanjutnya bisa dilacak perilaku serta cara berfikirnya. Mudah bukan ? Dalam tahapan ini syah-syah saja setiap orang berkesimpulan, asal tidak lupa akhir dari setiap kesimpulan hanya Alloh saja yang berhak menilai menimbang.

Karena satu diantara rumus kehidupan sesungguhnya adalah memulai dan menyandarkan setiap aktifitas pada batas maksimal dalam berikhtiar. Batas keniscayaan tujuan hidup seseorang untuk menemukan ‘moment-tawhid’ (penyatuan) terus-menerus. Yakni moment dimana diri menyadari sepenuhnya terhadap adanya tanda-tanda ‘kehadiran’ yang lain diluar dirinya. Kehadiran yang acap kali muncul saat mengalami keterbatasan diri memuncak, ia bisa dirasakan dan bisa dikenali (mengenali diri, mengenali diri yang lain), yang dalam perspektif Al~Qur’an di-idiomkan dengan istilah ta’aruf [QS:49;13]. [dalam proses tertentu meningkat pada maqam makrifat].

Jalinan pertemuan simbiosa keduanya (saling berpasangan, saling mengenal) diharapkan menumbuhkan motivasi saling selamat menyelamatkan (al-salam) dan mengembangkan rasa aman (al-mukmin) bersanding dengan meningkatnya ke-imanan. Kekuasaan, kuasa (al-mulk) berpasangan dengan yang tak ternoda, suci (al-quds) maka selanjutnya akan melahirkan tradisi, budaya dan prilaku jujur, tidak korup, amanah dan seterusnya. Karena kekuasaan yang sesungguhnya tidak bisa dinodai. Begitu seterusnya berpasangan dan berjalin-kelindan hingga menuju ‘moment tawhid’ yang sesungguhnya.

Beda itu halal, kok.
Ketika perbedaan menjadi paham lalu dipaksakan kepada paham lainya, sesungguhnya engkau sedang mengingkari dan melawan sunatulloh. Sebagaimana pedasnya cabe ketika belum dipertemukan dengan trasi, garam, tomat. Engkau baru bisa merasakan nikmatnya pedas didalam sambal. Saat perut mules, mencret, pasti bukan berarti itu maksud diciptakannya cabe. Karena ternyata manfa’at cabe banyak sekali. Oleh sebab itu, sudah saatnya cara memahami realitas musti dirubah dengan kesungguhan yang tetap disiapkan landasannya melalui sunnahrasul maupun sunnatulloh yang Alloh tetapkan dalam Al~Qur’an. Ini fungsi menejemen, ke-khalifahan. Bahwa petunjuk musti diraih ke arah lebih baik, lebih meyakinkan dan paling tidak menentramkan. Bukankah setiap gelaran amal hendaknya dilihat dan direncanakan tujuanya, agar menjadi mantap, yakin dan tentram melaksanakanya ? Bukankah perbedaan itu sendiri merupakan sunatulloh, rahmat; maka adakah alasan bagi kita untuk tidak bersepakat dalam ke-berbeda-an ? Bukankah kadar kebenaran itu hanya Allah saja yang tahu; bukan klaim individu personal, kelompok, atau Golongan ? Maka adakah alasan bagi kita untuk gampang menilai dan menghakimi amal seseorang ? Subhanalloh ! Deretan pertanyaan ini, mudah-mudahan cukup menjelaskan maksud apa yang sedang kami omongkan. Mengomongkan kebenaran diantara kebenaran obyektif lainya. Bukan mendaku kebenaran mutlak. Kebenaran bahwa cabe itu kita akui benarlah pedas rasanya. Benarlah bahwa rambut dikepala kita tumbuh mili demi centi. Kebenaran yang aku rasakan dan aku alami. Kebenaran yang belum tentu mampu mewakili kebenaran yang lain. Karena kebenaran dalam tingkat demikian baru pada tahapan awal ‘moment tawhid’, yakni kebenaran yang terukur keberadaannya.

Mungkin oleh sebab itulah ‘rasa’ sesungguhnya satu adanya, namun hanya berbeda momen-nya ? Allohu’alam, karena perbedaan itupun telah dijamin halal adanya. Maka bagaimana mungkin seseorang dengan gampang memproklamirkan dirinya mewakili kebenaran orang lain tanpa mengindahkan hadirnya kebenaran yang lain ? Bukankah Alloh hanya mengembankan kebenaran kepada manusia dengan kadar dan kesanggupan yang berbeda? [QS:2;286]. Bukan memaksakan kebenaran yang diyakininya kepada yang lain [QS:2;256]. Bukankah Alloh sendiri yang meletakkan batas ‘police line’ dengan “La ikraha fiddin…?!!” Tiba-tiba terdengar suara menggelegar teriakan Ustadz Avatar bin Aang memekakkan telinga dan nyaris membelah hamparan meja gaplé-ku. Astaghfirullohal’adziim…! Rupanya roka’at tahadjud-ku baru sampai dibantingan balak ganjil. Mungkin ini yang menjadikan mblangsak-nya kehidupan tanpa punya arah kiblat –kiblat bukan sekedar arah menghadap-. Mudah-mudahan Malaikat pemegang urusan mau menggenapkan dan menyempurnakan roka’at tahadjud-ku disuatu malam nanti.

Tapi yaa sudahlah.., tak usyah mendramatisir dengan kenakalan berpikir demikian, bisa-bisa kena virus sesat. Konon lagi nge-trend lho. Dari pada ruwet-ruwet, lebih baik mengerjakan sesuatu yang ringan namun pasti bermanfaat buat lingkungan. Misalnya; membersihkan got-got depan rumah tinggal tanpa harus menunggu komando Pak RT, membangunkan polisi tidur dengan meratakannya kembali, atau menertibkan anjing-anjing dan hewan piaraan lainya yang terkesan hanya menjunjung tinggi ‘klangenan-individu’ semata tanpa memikirkan manfaat bagi kanan-kiri tetangga dan lingkunganya. Yang seringkali suara lolongan anjing-anjing itu memekakkan telinga dan terdengar lebih nyaring ketimbang suara loud-speaker muadzin di musholla sebrang sana. Bising crowded bercampur dengan remeh-temeh persoalan hidup sehingga tak bisa jernih memilah-milih bagaimana seharusnya menjawab langkah khayya’alal falaakh, ditengah-tengah langkah umat yang senantiasa kalah.

Ya Alloh…hujamkanlah kedalam dadaku, kesanggupan untuk sejenak menengok kembali siapa sesungguhnya diri ini, iqra kitabaka, untuk apa dan hendak kemana menuju. Diposisi proses kesejarahan yang mana aku diri ini telah bermanfaat bagi lingkunganya. Sudah terlalu lama Ya Alloh, sejarah me-yatim-kan kami dari berbagai akses kemandirian [QS:2;220]. Akses membebaskan diri dengan Islam yang Engkau relakan untuk saling menyelamatkan. Akses kemandirian yang bisa dipertanggungjawabkan sebagai jaminan bahwa aku, engkau, kita benar-benar telah Engkau terima dalam Islam. Lebih sepele lagi, agar bisa memperoleh akses hak hidup yang lebih baik ditengah tatanan kuasa ‘kebenaran’ manusia. Akses memperoleh hak pendidikan bermutu, [agar tak ada lagi pemeo; rakyat pintar maka negara bubar, maka fasilitas pendidikan mesti harus mahal], akses mendapatkan pemenuhan kebutuhan bertahan hidup mengemban dan menjaga amanah badan [batas akses minimalis, mendekatkan pada kekufuran].

Bukan akses mengumbar nafsu konsumtif dengan membangun supermarket, hypermarket, plasa-plasa dan mol yang mengepung kita dari segala penjuru dengan produk dan aktifitasnya yang telah ber-migrasi ke beranda rumah-rumah kita, ke ruang keluarga, dapur bahkan bilik-bilik kita, lewat remot kontrol multimedia, setiap menit menyihir sendi-sendi kehidupan dan bahkan telah meminggirkan haluan-haluan agama. [menjadi agenda keprihatinan Konferensi Khilafah Internasional Hizbut Tahrir dan Sidang Kaum Agamawan, Agama-Agama Dunia di Bali bulan Juni lalu]. Semua itu nyaris mengikis rasa peduliku pada saudara-saudaraku di Panti Nurul Aitam yang tergelar menghampar di seluruh pelosok negri, yang hari-hari ini bertambah terus bertambah jumlahnya seiring dengan kerapnya malapetaka bencana akibat ulah manusia yang mengatasnamkan ‘kebenaran’.

Padahal belasan abad lalu ’aku’ bercengkerama, mengelus, menciumi ubun-ubun para yatim itu, untuk sekedar mendapatkan sepetak kapling suwarga yang Engkau janjikan. Untuk sekedar terciprati ke-mulyaan dan ke-utamaan Rosululloh Muhammad bin Abdulloh yang aku yakini syafa’atnya. Yang dengan harap-harap cemas mampu melapangkan jalan ‘menuju pulang’ tanpa dirintangi oleh ‘polisi tidur’ yang arogan meretakkan tulang belulang yang kian rapuh. Padahal diwajibkan atas amanah badan agar senantiasa dijaga, dipelihara kesehatanya. Juga tanpa dihambat lagi oleh cor-beton yang menutupi got-drainase didepan rumah, sehingga gampang mengangkat sampah-mol yang menyumbat alirannya. Yang entah sampai kapan danau duta itu mampu berfungsi sebagai air serapan yang kemarin airnya sempat meluap menutupi jalan. Mungkin tidak lama lagi perumahan kitapun bernasib sama dengan perumahan lain yang jadi bulan-bulanan banjir? Masih banyak lagi penghalang ‘jalan menuju pulang’ itu telah memampetkan interaksi-harmonis keberlangsungan dan kebersamaan pergaulan di lingkungan kita.

Sedangkan Rosululloh Muhammad SAW, abul yatama, bapaknya para yatim yang Alloh yatimkan sejak dini, satu kali duapuluh empat jam, menghabiskan waktunya berinteraksi ditengah-tengah para yatim dan mujahid berjuang membebaskan manusia dari belenggu kekerasan, pemiskinan, pembodohan, penindasan, penjajahan dan perbudakan nafsu terhadap sesama. Melihat kejadian ini, sampai-sampai sang mujahid besar Imam Syafi’i tegas menyatakan bahwa; “Kedudukan Imam (pemimpin) terhadap rakyatnya adalah seperti kedudukan wali terhadap anak yatim”. Allohu Akbar. Betapa tingginya tuntutan nilai tanggungjawab seorang pemimpin dihadapan KhaliqNYA.

Sedangkan aku yang di ’Islamkan KTP’, sejak kapan berjuang dan berani membebaskan diri [dan sanggup membebaskan orang lain] dari pemiskinan dan pembodohan yang dilakukan begitu sistematis oleh setiap rezim ? Padahal, telah Alloh tetapkan kepada kita manusia, mahluk yang sekali datang kedunia sekaligus berperan andil dan diberi amanah penuh untuk menyangga keberlangsungan alam semesta, meski dengan peran sekecil apapun [khalifah fil ‘ardl]. Sehingga diharapkan kelak; air, udara, tanah, api, hewan, tetumbuhan, samudera, gunung, bakteri-amuba; hanya melalui mahluk bernama manusia maka ia akan menemukan syurganya. [QS:2;22 & 29]. Maha Benar Alloh, Maha Kasih Sayang Alloh. Allohu’alam bi Shawab.







Posted by WaliDUTA on Feb 15, '08 11:38 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Note
Guestbook
   
afifshalahuddin wrote on May 8, '08
hehehe..., foto danau-ne duta dipasang tah....? ben terdiskripsi...
shoppingholic wrote on May 7, '08
Hay...

Mampir yukk di http://shoppingholic.multiply.com/

Shopping Holic menjajakan parfum SENSWELL yang wanginya oke banget dan harganya nda bikin kantong jebol!!! ^^